PENGEMBANGAN KREATIVITAS
DAN KEBERBAKATAN
Disusun Oleh :
Nama :
1. Fahdiah Auditawati (13514771)
2.
Jessica Phoibe (15514649)
3.
Riski Wahyu Kurniawan (19514500)
Kelas :
1PA18
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2014/2015
2014/2015
BELAJAR DAN MENGAJAR SECARA KREATIF
1.
ARTI
BELAJAR KREATIF
a.
Pengertian
Belajar Kreatif
Kreativitas
seringkali dianggap sebagai suatu ketrampilan yang didasarkan pada bakat alam,
dimana hanya mereka yang berbakat saja yang bisa menjadi kreatif. Anggapan
tersebut tidak sepenuhnya benar, walaupun dalam kenyataannya terlihat bahwa
orang tertentu memiliki kemampuan untuk menciptakan ide baru dengan cepat dan
beragam. Sesungguhnya kemampuan berpikir kreatif pada dasarnya dimiliki semua
orang.
Menurut
Satiadarma (2003:109), kreativitas merupakan salah satu modal
yang harus dimiliki siswa untuk mencapai prestasi belajar. Kreativitas siswa
tidak seharusnya diartikan sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang
benar-benar baru, akan tetapi kecerdasan yang dimiliki siswa dalam memandang
ketentuan.
Menurut
Munandar (2009:25), kreativitas sebagai kemampuan untuk
menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberi gagasan baru
yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk
melihat hubungan baru antara unsur yang sudah ada sebelumnya. Kreativitas
seseorang dapat dilihat dari tingkah laku atau kegiatannya yang kreatif.
Menurut
Slameto (2003:146), bahwa yang penting dalam kreativitas
bukanlah penemuan sesuatu yang belum pernah diketahui orang sebelumnya,
melainkan bahwa produk kreativitas merupakan sesuatu yang baru bagi diri
sendiri dan tidak harus merupakan sesuatu yang baru bagi orang lain atau dunia
pada umumnya.
b.
Proses
Belajar Kreatif
Beberapa
hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru yang professional dalam menyusun
program pembelajaran yang dapat meningkatkan
kreativitas siswa dalam belajar, yaitu :
1. Menciptakan
lingkungan di dalam kelas yang merangsang belajar kreatif
A. Memberikan
Pemanasan
Sebelum
memulai dengan kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan
rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di kalangan
siswa, terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu
penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan,
bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda
lebih terbuka dan tertantang berperan serta secara aktif dengan memberikan
gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan pemanasan yang dapat tercapai dengan
memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa
ingin tahu siswa.
B. Pengaturan
Fisik
Membagi
siswa dalam kelompok untuk mengadakan diskusi kelompok.
C. Kesibukan
Dalam Kelas
Kegiatan
belajar secara kreatif sering menuntut lebih banyak kegiatan fisik, dan diskusi
antara siswa oleh karena itu guru hendaknya agak tenggang rasa dan luwes dalam
menuntut ketenangan dan sebagai siswa tetap duduk pada tempatnya. Guru harus
dapat membedakan kesibukan yang asyik serta suara-suara yang produktif yang
menunjukkan bahwa siswa bersibuk diri secara kreatif.
D. Guru
sebagai Fasilitator
Guru
dan anak yang berbakat lebih berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai
pengarah yangmenentukan segalagalanya baigsiswa. Sebagai fasilitator guru mendorong
siswa (memotivator) untuk menggabungkan inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas
baru. Guru harus terbuka menerima gagasan dari semua siswa dan guru harus dapat
menghilangkan ketakutan, kecemasan siswa yang dapat menghambat dan pemecahan
masalah secara keatif (Munandar, 1992 : 78-81).
2. Mengajukan
dan mengundang pertanyaan
Dalam
proses belajar mengjar, diperlukan keterampilan guru baik dalam mengajukan
pertanyaan kepada siswa maupun dalam mengundang siswa untuk bertanya.
A. Tehnik
Bertanya
Pertanyaan
yang merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan semacam divergen atau
terbuka. Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan keterampilan
mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai informasi
mereka. Dengan mengajukan pertanyaan, guru memperoleh informasi yang berharga
dan berguna untuk :
·
Menimbulkan minat dan motivasi siswa
untuk berperan serta aktif.
·
Menilai persiapan siswa dan sejauh mana
siswa telah menguasai bahan yang diberikan sebelumnya.
·
Mengulang kembali dan meringkas apa yang
telah diajarkan.
·
Membantu siswa melihat hubungan-hubungan
baru.
·
Merangsang pemikiran kritis dan
pengembangan sikap bertanya.
·
Merangsang siswa untuk mencari sendiri
pengetahuan tambahan.
·
Menilai pencapaian tujuan dan sasaran
belajar (Munandar, 1999 : 84)
B. Metode
Diskusi
Dalam
metode diskusi, peran guru dangat menentukan keberhasilan, guru berperan
sebagai fasilitator yang mengenalkan masalah kepada siswa dan memberikan
informasi seperlunya yang mereka butuhkan unutk membahas masalah. Guru memang
diperlukan misalnya jika timbul kemacetan dalam diskusi atau untuk menghindari
kesalahan yang tersembunyi agar siswa tidak terlalu menyimpang dari arah yang
dituju.
C. Metode
Inquiri-Discovery
Pendekatan
inquiri (pengajuan pertanyaan, penyelidikan) dan discovery (penemuan) dalam
belajar penting dalam proses pemecahan masalah. Ada tiga tahap dalam proses pemecahan
masalah melalui inquiry. Tahap pertama
adalah dengan adanya kesadaran bahwa ada masalah. Hal ini merupakan factor yang
memotivasi siswa untuk melanjutkan dengan merumuskan masalah. Tahap
Kedua, pada tahap ini masalah dirumuskan dan timbul gagasan-gagasan sebagai
strategi kemungkinan pemecahan. Melalui inquiry informasi mengenai masalah
dihimpun. Tahap ketiga adalah mencari
atau menjajaki (searching). Pada tahap
pertanyaan dan informasi dihubungkan dengan perumusan hipotesis.
3. Mengajukan
pertanyaan yang menantang (provokatif)
Salah
satu cara untuk merangsang daya pikir kreatif adalah dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang menantang (provokatif) antara lain dengan menanyakan
apa kemungkinan-kemungkinan akibat apabila suatu kejadian yang telah terjadi,
atau dengan menanyakan suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan
menanyakan kemungkinan-kemungnkinan akibat dari suatu situasi yang memang belum
pernah terjadi, tetapi siswa harus membayangkan apa saja
kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau situasi itu terjadi
di sini.
Memadukan
perkembangan kognitif (berfikir), afektif (sikap) dan Psikomotorik
(perasaan). Dalam rangka membangun
manusia seutuhnya perlu ada keseimbangan antara semua aspek perkembangan yaitu
perkembangan mental intelektual, perkembangan
social, perkembanan emosi (kehidupan perasaan) dan perkembangan moral.
A. Ciri-ciri
kemampuan berfikir kreatif (aptitude)
·
Keterampilan berfikir lancar
·
Keterampilan berfikir luwes
·
Keterampilan berfikir orisinal
·
Keterampilan memperinci
·
Keterampilan menilai
B. Ciri-ciri
efektif (nonaptitude)
·
Rasa ingin tahu
·
Bersifat imajinatif
·
Merasa tergantung oleh kemajemukan
·
Sifat berani mengambil resiko
·
Sifat menghargai (Munandar, 1999 :
88-93).
Teknik-teknik belajar kreatif dijelaskan
sebagai berikut:
1) Pemikiran
dan perasaan terbuka
Cara
yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran kreatif ialah dengan
mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempatan timbulnya berbagai macam
jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan membantu siswa
mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan terbuka :
§ Menyelesaikan
sesuatu yang telah dimulai
§ Mencari
penggunaan baru dari benda sehari-hari
§ Meningkatkan
atau memperbaiki suaut produk atau benda (Munandar, 2009 : 100-1003).
2) Sumbang
Saran
Teknik
yang dikembangkan oleh Osborn ini dapat diterapakan untuk memecahkan suatu
masalah dalam kelompok kecil (Sekitar 8-10 orang) dengan “menggali”
gagasan-gagasan sebanyak mungkin dari anggota kelompok. Hal-hal yang pelru
diperhatikan meliputi :
§ Kebebasan
dalam memberikan gagasan
§ Penekanan
pada kuantitas
§ Kritik
ditangguhkan
§ Kombinsi
dan peningkatan gagasan
§ Mengulangi
gagasan (Munandar, 2009 : 104).
3) Daftar
pertanyaan yang memacu gagasan
Teknik
ini bertujuan melancarkan arus pencetusan gagasan dalam pemecahan masalah
seperti mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki suatu subyek atau situasi dengan
meninjau daftar pertanyaan yang membantu melihat hubungan-hubungan baru.
4) Menyimak
sifat benda atau keadaan
Teknik
ini digunakan untuk mengubah gagasan guna meningkatkan atau memperbaiki suatu
subyek atau situasi. Pertama-tama semua atribut (sifat) dari suatu subyek atau
situasi dicatat, kemudian masing-masing ciri ditinjau satu persatu untuk
mempertimbangkan kemungkinan mengubah atau memperbaiki obyek atau situasi
tersebut.
5) Hubungan
yang dipaksakan
Teknik
lain untuk merangsang gagasan-gagasan kreatif ialah dengan cara “memaksakan”
suatu hubungan antara objek atau situasi yang dimasalahkan dengan unsur-unsur
lain untuk menimbulkan gagasan-gagasan baru. Maksud dari “memaksakan hubungan”
ialah agar kita dapat melepskan diri dari hubungan-hubungan yang lazim atau
yang sudah mejadi tradisi (kebiasan) untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan
baru.
6) Pendekatan
Morfologis
Pada
teknik pendekatan atau analisis morfologis kita berusaha memecahkan suatu
masalah atau memperoleh ide-ide baru dengan cara mengkaji dengan cermat bentuk
struktur masalah pemecahan masalah secara kreatif.
c.
Mengapa
Belajar Kreatif itu Penting ?
Refinger
(1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa
belajar kreatif itu penting.
1. Belajar
kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka.
Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar
mereka lebih mampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
2. Belajar
kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah
yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
3. Belajar
kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehidupan kita. Banyak
pengalaman kreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita.
Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah
karir dan kehidupan pribadi kita.
4. Belajar
kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
d.
Tiga
Tingkat Belajar Kreatif (Model Triffinger)
Model
Treffinger untuk Mendorong Belajar Kreatif (Treffinger, 1986) menggambarkan
susunan tiga tingkat yang mulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke
fungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. Seperti dalam Model
Penggayaan Renzulli (Renzulli, 1977, dikutip oleh Parke), siswa terlibat dalam
kegitan membangun keterampilan pada dua tingkat pertama untuk kemudian
menangani masalah kehidupan nyata pada tingkat ketiga. Model Treffinger terdiri
dari langkah-langkah berikut: Basic Tools, Practice with Process, dan
Working with Real Problems.
§ Tingkat
I : Basic Tools atau teknik-teknik kreativitas tingkat I
(Munandar, dalam Semiawan, Munandar dan
Munandar, 1987) meliputi keterampilan divergen
(Guilford, 1967, dikutip Parke, 1989) dan teknik-teknik
kreatif. Keterampilan dan teknik-teknik ini
mengembangkan kelancaran dan kelenturan berfikir
serta kesediaan mengungkapakan pemikiran kreatif
kepada orang lain.
(Munandar, dalam Semiawan, Munandar dan
Munandar, 1987) meliputi keterampilan divergen
(Guilford, 1967, dikutip Parke, 1989) dan teknik-teknik
kreatif. Keterampilan dan teknik-teknik ini
mengembangkan kelancaran dan kelenturan berfikir
serta kesediaan mengungkapakan pemikiran kreatif
kepada orang lain.
§ Tingkat
II : Practice with Process atau teknik-teknik krativitas
tingkat II (Munandar, dalam Semiawan, Munandar
dan Munandar, 1987) memberi kesempatan kepada
siswa untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari
ada tingkat I dalam situasi praktis. Untuk tujuan ini
digunakan strategi seperti bermain peran, simulasi,
dan studi kasus. Keahiran dalam berfikir kreatif
menuntuut siswa memiliki keterampilan untuk
melakukan fungsi-fungsi seperti analisis, evaluasi,
imajinasi, dan fantasi.
tingkat II (Munandar, dalam Semiawan, Munandar
dan Munandar, 1987) memberi kesempatan kepada
siswa untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari
ada tingkat I dalam situasi praktis. Untuk tujuan ini
digunakan strategi seperti bermain peran, simulasi,
dan studi kasus. Keahiran dalam berfikir kreatif
menuntuut siswa memiliki keterampilan untuk
melakukan fungsi-fungsi seperti analisis, evaluasi,
imajinasi, dan fantasi.
§ Tingkat
III : Working with Real Problems atau teknik kreatif
tingkat III (Munandar, dalam Semiawan, Munandar
dan Munandar, 1987) menerapkan keterampilan yang
dipelajari dua tingkat pertama terhadap tantangan
dunia nyata. Seperti pada kegiatan Tipe III pada
Model Enrichment Triad dari Renzulli, siswa
menggunakan kemampuan mereka dengan cara yang
bermakna untuk kehidupannya. Siswa tidak hanya
belajar keterampilan berfikir kreatif, tetapi juga
bagaimana menggunakan informasi ini dalam
kehidupan mereka.
tingkat III (Munandar, dalam Semiawan, Munandar
dan Munandar, 1987) menerapkan keterampilan yang
dipelajari dua tingkat pertama terhadap tantangan
dunia nyata. Seperti pada kegiatan Tipe III pada
Model Enrichment Triad dari Renzulli, siswa
menggunakan kemampuan mereka dengan cara yang
bermakna untuk kehidupannya. Siswa tidak hanya
belajar keterampilan berfikir kreatif, tetapi juga
bagaimana menggunakan informasi ini dalam
kehidupan mereka.
2. MENGAJAR KREATIF
a.
Pengertian
Mengajar Kreatif
Kata
‘mengajar’ mengarah kepada sosok pengajar, yaitu guru/dosen. Orang yang
dipercaya untuk bisa ‘memberi pelajaran’ kepada muridnya, membagikan ilmu yang
didapat kepada anak didiknya. Inilah tugas mulia dari para pengajar, yang harus
diakui bahwa ini tidaklah mudah. Setiap dosen atau guru harus memiliki cara
yang kreatif dalam mengajarkan suatu pelajaran agar mahasiswa atau anak
didiknya dapat mengerti pelajaran tersebut dan dapat mengikutinya dengan santai
tanpa tertekan.
b.
Teknik
Mengajar Kreatif :
1)
Melakukan
Pemanasan
Untuk
menumbuhkan iklim atau suasana kreatif didalam kelas yang memungkinkan siswa
untuk membuka dirinya, merasa bebas dan aman untuk mengungkapkan pikiran dan
perasaannya, guru perlu melakukan “pemanasan” atau warming up, seperti
dilakukan seseorang sebelum berenang, hanya saja disini pemanasannya adalah
secara mental. Jika sebelumnya sisiwa di dalam kelas dituntut untuk mengerjakan
berbagai tugas yang sangat bersetruktur, seperti mengulang apa yang diucapkan
oleh guru, maka siswa memerlukan switch mental dari proses pemikiran
reproduktif dan konvergen ke proses pemikiran divergen dan imajinatif.
Tugas
atau kegiatan yang bertujuan meningkatkan pemikiran dan sikap kreatif menuntut
cara dan sikap belajar yang berbeda, lebih bebas, terbuka, dan tertantang untuk
berperan secara aktif dengan memberanikan diri dan senang memberikan gagasan
sebanyak mungkin.
Pemanasan
dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan terbuka yang menimbulkan minat dan
rasa ingin tahu siswa, seperti, “Apa
saja yang membuat kamu merasa senang?” “Apa saja yang kamu sukai
disekolah?” “Dan apa yang tidak kamu sukai?” cara lain yang berhasil adalah
dengan mendorong siswa mengajukan pertanyaan terhadap suatu masalah, seperti
misalnya sering terjadi perkelahian antara siwa.
2)
Pemikiran
dan Pemanasan
Teknik
pemikiran dan perasaan terbuka ingin mengupayakan agar peserta didik terdorong
memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara
mengajukan pertanyaan dan memungkinkan peserta didik mengungkapkan segala
perasaan dan pikiran sebagai jawaban. Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan
terbuka dapat dicontohkan sebagai berikut:
v Andai
kata
Pertanyaan
ini dapat diungkapkan melalui pertanyaan tentang situasi yang tidak benar atau
sesuatu yang bertentangan dengan fakta.
v Peningkatan
suatu roduk
Pertanyaan
ini dapat diungkapkan melalui pengungkapan pemikiran pengembangan atau
peningkatan terhadap suatu kondisi yang telah ada. Contoh: Bagaimana cara
memperbaiki cara belajar yang biasa dilakukan sekarang.
v Pemulaan
yang tidak selesai
Pertanyaan
ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu kondisi yang belum selesai atau
belum sempurna, untuk dipikirkan kemungkinan penyelesaian atau
penyempurnaannya.
v Penggunaan
baru dari objek-objek umum
Pertanyaan
ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu benda atau hal untuk dipikirkan
fungsi lainnya dilain fungsi yang lazim. Contoh: tali sepatu, kancing baju,
kumis, dan lain sebagainya.
v Alternatif judul
Pertanyaan
ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu stimulasi untuk dipikirkan
judulnya yang tepat. Contoh kepada peserta didik diperlihatkan naskah sebuah
cerita, lukisan, atau gambar-gambar tentang sesuatu.
v Membantu
siswa atau anak mengajukan pertanyaan.
Kegiatan
ini dilakukan mengingat pada biasanya siswa beranggapan bahwa gurulah yang
banyak mengajukan pertanyaan dalam konteks pembelajaran. Disini siswa diberi
kesempatan untuk memikirkan banyak pertanyaan. Melalui strategi pemikiran dan
persaan terbuka ini diharapkan peserta didik akan terangsang untuk meningkatkan
rasa ingin tahunya dan menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas
pembelajaran.
3. MENJELASKAN STRATEGI BELAJAR
KREATIF
Ada beberapa kajian ( Niu & Sternberg 2003;
Torrance 1961) yang telah dilakukan untuk menjawab persoalan pertama yang penting
itu. Niu & Sternberg (2003) telah menjalankan satu kajian untuk menganalisa
dua cara yang digunakan untuk
meningkatkan kreativitas 96 orang pelajar di sebuah Sekolah Tinggi di
Beijing, China. Para pelajar ini telah diminta untuk menghasilkan satu hasil
seni yaitu kolaj. Dalam kajian ini para pelajar
telah dibahagikan kepada 3
kumpulan yaitu kumpulan pertama tidak menerima arahan supaya menjadi kreativitas apabila
menghasilkan kolaj, kumpulan kedua telah menerima arahan supaya menjadi kreatif
apabila menghasilkan kolaj dan kumpulan ketiga pula telah diajar secara
terperinci bagaimana menghasilkan kolaj yang kreatif. Kolaj yang dihasilkan oleh para pelajar tersebut
telah diadili secara subjektif dan objektif. Hasil kajian ini mendapati bahawa
para pelajar yang telah diminta menjadi kreatif telah menghasilkan kolaj yang
kreatif berbanding dengan rakan-rakan mereka yang tidak menerima sebarang
arahan supaya menjadi kreatif. Kajian juga mendapati bahawa pelajar yang diajar
secara terperinci bagaimana menghasilkan kolaj yang kreatif telah menghasilkan
kolaj yang paling kreatif. Dapatan kajian ini menunjukkan kepada kita bahawa
kreativiti pelajar boleh ditingkatkan
dalam bilik darjah melalui arahan-arahan yang disampaikan oleh guru
kepada para pelajarnya.
Di samping itu, Torrance (1961) telah mengajar
guru-guru di beberapa buah sekolah di Amerika Syarikat lima prinsip pengajaran
kreatif yaitu:
1. Menghormati
persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh pelajar,
2. Menghormati idea-idea imaginatif yang
dikeluarkan oleh pelajar,
3. Tunjukkan
kepada pelajar bahwa idea-idea yang mereka keluarkan mempunyai nilai
tersendiri,
4. Benarkan
pelajar melakukan perkara-perkara tertentu untuk tujuan latihan semata-mata
tanpa sebarang penilaian,
5. Kaitkan
sebarang penilaian yang guru lakukan dengan sebab dan akibat. Para guru
tersebut telah menjalankan pengajaran dengan mengikut kelima-lima prinsip ini
selama empat minggu. Satu lagi kumpulan guru yang dikawal telah menjalankan
pengajaran mereka mengikut prosedur biasa untuk tempoh yang sama. Ujian
kreativiti yang dilakukan terhadap pelajar sebelum dan sesudah kajian ini
dilakukan menunjukkan bahawa terdapat peningkatan yang mendadak terhadap
pelajar yang diajar oleh guru menggunakan lima prinsip pengajaran kreativiti
berbanding dengan pelajar yang diajar oleh guru mengikut prosedur biasa. Mereka
mendapat markah yang lebih tinggi untuk keaslian , keluwesan, kefleksibelan dan
penghuraian (Stein, 1974).
Sebagai tambahan, Amabile (1983) mendakwa bahwa siapa
yang memiliki kebolehan kognitif yang biasa boleh bercita-cita untuk
menghasilkan sesuatu yang kreatif dalam bidang tertentu. Cropley (1992) pula
menambah bahwa semua pelajar tanpa mengira tahap kepintaran mereka
memilikinkemampuan untuk berfikir secara konvergen dan divergen. Pemikiran divergen
adalah pemikiran yang dikaitkan dengan kreativiti. Bagi menjawab soalan yang
kedua yaitu bagaimanakah kreativiti boleh dipertingkatkan, beberapa percobaan
telah dilakukan untuk membangunkan pelbagai pendekatan untuk meningkatkan
kreativiti dalam bilik darjah. Secara keseluruhannya pendekatan itu boleh
dibahagikan kepada tiga kategori yaitu:
a) Strategi-strategi
umum yang hanya melibatkan perubahan dalam stail pengajaran guru atau pedagogi
b) Pendekatan
berstruktur yang melibatkan penggunaan teknik-teknik khusus
c) Pendekatan
penyelesaian masalah terhadap isi mata pelajaran. Disebabkan kekangan masa dan
tenaga, perbincangan ini akan memberikan tumpuan kepada strategi-strategi umum
yang hanya melibatkan perubahan dalam stail pengajaran guru.
4. MENJELASKAN DAN MENGANALISA SARAN-SARAN DAN TAMBAHAN DALAM MEMUPUK IKLIM BELAJAR KREATIF
4. MENJELASKAN DAN MENGANALISA SARAN-SARAN DAN TAMBAHAN DALAM MEMUPUK IKLIM BELAJAR KREATIF
Ø Menghargai
kreativitas siswa.
Ø Bersikap
terbuka terhadap gagasan-gagasan baru.
Ø Mengakui
dan menghargai adanya perbedaan individu.
Ø Bersikap
menerima dan menunjang anak.
Ø Menyediakan
pengalaman mengajar yang berdiferensisasi.
Ø Memberikan
struktur dalam mengajar sehingga anak tidak merasa.
Ø Ragu-ragu
tetapi di lain pihak cukup luwes sehingga tidak menghamabat pemikiran, sikap
dan perilaku kreatif anak.
Ø Setiap
anak ikut mengambil bagian dalam merencanakan pekerjaan sendiri dan pekerjaan
kelompok.
Ø Tidak
bersikap sebagai tokoh yang “maha mengetahui” tetapi menyadari keterbatasannya
sendiri.
Daftar
Pustaka :
Utami, Munandar. (2009).
Kreativitas dan keberbakatan.
Jakarta: Rineka cipta
http://amaliakusuma61.blogspot.com/2015/05/pengembangan-kreativitas-dan.html
