Sabtu, 09 Mei 2015

Tugas Pengembangan Kreativitas dan Keberbakatan Portofolio 3



PENGEMBANGAN KREATIVITAS
DAN KEBERBAKATAN

Disusun Oleh :
Nama :
1.    Fahdiah Auditawati                 (13514771)
2.     Jessica Phoibe                         (15514649)
3.     Riski Wahyu Kurniawan         (19514500)
Kelas :
1PA18

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2014/2015

BELAJAR DAN MENGAJAR SECARA KREATIF
1.      ARTI BELAJAR KREATIF
a.      Pengertian Belajar Kreatif
Kreativitas seringkali dianggap sebagai suatu ketrampilan yang didasarkan pada bakat alam, dimana hanya mereka yang berbakat saja yang bisa menjadi kreatif. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar, walaupun dalam kenyataannya terlihat bahwa orang tertentu memiliki kemampuan untuk menciptakan ide baru dengan cepat dan beragam. Sesungguhnya kemampuan berpikir kreatif pada dasarnya dimiliki semua orang.
Menurut Satiadarma (2003:109), kreativitas merupakan salah satu modal yang harus dimiliki siswa untuk mencapai prestasi belajar. Kreativitas siswa tidak seharusnya diartikan sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, akan tetapi kecerdasan yang dimiliki siswa dalam memandang ketentuan.
Menurut Munandar (2009:25), kreativitas sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberi gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan baru antara unsur yang sudah ada sebelumnya. Kreativitas seseorang dapat dilihat dari tingkah laku atau kegiatannya yang kreatif.
Menurut Slameto (2003:146), bahwa yang penting dalam kreativitas bukanlah penemuan sesuatu yang belum pernah diketahui orang sebelumnya, melainkan bahwa produk kreativitas merupakan sesuatu yang baru bagi diri sendiri dan tidak harus merupakan sesuatu yang baru bagi orang lain atau dunia pada umumnya.

b.      Proses Belajar Kreatif
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru yang professional dalam menyusun program pembelajaran yang dapat meningkatkan  kreativitas siswa dalam belajar, yaitu :
1.      Menciptakan lingkungan di dalam kelas yang merangsang belajar kreatif
A.    Memberikan Pemanasan
Sebelum memulai dengan kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih terbuka dan tertantang berperan serta secara aktif dengan memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan  pemanasan yang dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa.
B.     Pengaturan Fisik
      Membagi siswa dalam kelompok untuk mengadakan diskusi kelompok.
C.     Kesibukan Dalam Kelas
Kegiatan belajar secara kreatif sering menuntut lebih banyak kegiatan fisik, dan diskusi antara siswa oleh karena itu guru hendaknya agak tenggang rasa dan luwes dalam menuntut ketenangan dan sebagai siswa tetap duduk pada tempatnya. Guru harus dapat membedakan kesibukan yang asyik serta suara-suara yang produktif yang menunjukkan bahwa siswa bersibuk diri secara kreatif.

D.    Guru sebagai Fasilitator
Guru dan anak yang berbakat lebih berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pengarah yangmenentukan segalagalanya baigsiswa. Sebagai fasilitator guru mendorong siswa (memotivator) untuk menggabungkan inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas baru. Guru harus terbuka menerima gagasan dari semua siswa dan guru harus dapat menghilangkan ketakutan, kecemasan siswa yang dapat menghambat dan pemecahan masalah secara keatif (Munandar, 1992 : 78-81).
2.      Mengajukan dan mengundang pertanyaan
Dalam proses belajar mengjar, diperlukan keterampilan guru baik dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa maupun dalam mengundang siswa untuk bertanya.
A.    Tehnik Bertanya
Pertanyaan yang merangsang pemikiran kreatif adalah pertanyaan semacam divergen atau terbuka. Pertanyaan semacam ini membantu siswa mengembangkan keterampilan mengumpulkan fakta, merumuskan hipotesis, dan menguji atau menilai informasi mereka. Dengan mengajukan pertanyaan, guru memperoleh informasi yang berharga dan berguna untuk :
·         Menimbulkan minat dan motivasi siswa untuk berperan serta aktif.
·         Menilai persiapan siswa dan sejauh mana siswa telah menguasai bahan yang diberikan sebelumnya.
·         Mengulang kembali dan meringkas apa yang telah diajarkan.
·         Membantu siswa melihat hubungan-hubungan baru.
·         Merangsang pemikiran kritis dan pengembangan sikap bertanya.
·         Merangsang siswa untuk mencari sendiri pengetahuan tambahan.
·         Menilai pencapaian tujuan dan sasaran belajar (Munandar, 1999 : 84)
B.     Metode Diskusi
Dalam metode diskusi, peran guru dangat menentukan keberhasilan, guru berperan sebagai fasilitator yang mengenalkan masalah kepada siswa dan memberikan informasi seperlunya yang mereka butuhkan unutk membahas masalah. Guru memang diperlukan misalnya jika timbul kemacetan dalam diskusi atau untuk menghindari kesalahan yang tersembunyi agar siswa tidak terlalu menyimpang dari arah yang dituju.
C.     Metode Inquiri-Discovery
Pendekatan inquiri (pengajuan pertanyaan, penyelidikan) dan discovery (penemuan) dalam belajar penting dalam proses pemecahan masalah. Ada tiga tahap dalam proses pemecahan masalah melalui inquiry. Tahap pertama adalah dengan adanya kesadaran bahwa ada masalah. Hal ini merupakan factor yang memotivasi siswa untuk melanjutkan dengan merumuskan  masalah. Tahap Kedua, pada tahap ini masalah dirumuskan dan timbul gagasan-gagasan sebagai strategi kemungkinan pemecahan. Melalui inquiry informasi mengenai masalah dihimpun. Tahap ketiga adalah mencari atau  menjajaki (searching). Pada tahap pertanyaan dan informasi dihubungkan dengan perumusan hipotesis.
3.      Mengajukan pertanyaan yang menantang (provokatif)
Salah satu cara untuk merangsang daya pikir kreatif adalah dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang (provokatif) antara lain dengan menanyakan apa kemungkinan-kemungkinan akibat apabila suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan suatu kejadian yang telah terjadi, atau dengan menanyakan kemungkinan-kemungnkinan akibat dari suatu situasi yang memang belum pernah terjadi, tetapi siswa harus membayangkan apa saja kemungkinan-kemungnkinan akibatnya andaikan kejadian atau situasi itu terjadi di sini.
Memadukan perkembangan kognitif (berfikir), afektif (sikap) dan Psikomotorik (perasaan).  Dalam rangka membangun manusia seutuhnya perlu ada keseimbangan antara semua aspek perkembangan yaitu perkembangan  mental intelektual, perkembangan social, perkembanan emosi (kehidupan perasaan) dan perkembangan moral.
A.    Ciri-ciri kemampuan berfikir kreatif (aptitude)
·         Keterampilan berfikir lancar
·         Keterampilan berfikir luwes
·         Keterampilan berfikir orisinal
·         Keterampilan memperinci
·         Keterampilan menilai
B.     Ciri-ciri efektif (nonaptitude)
·         Rasa ingin tahu
·         Bersifat imajinatif
·         Merasa tergantung oleh kemajemukan
·         Sifat berani mengambil resiko
·         Sifat menghargai (Munandar, 1999 : 88-93).
Teknik-teknik belajar kreatif dijelaskan sebagai berikut:
1)      Pemikiran dan perasaan terbuka
Cara yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempatan timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan terbuka :
§  Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai
§  Mencari penggunaan baru dari benda sehari-hari
§  Meningkatkan atau memperbaiki suaut produk atau benda (Munandar, 2009 : 100-1003).
2)      Sumbang Saran
Teknik yang dikembangkan oleh Osborn ini dapat diterapakan untuk memecahkan suatu masalah dalam kelompok kecil (Sekitar 8-10 orang) dengan “menggali” gagasan-gagasan sebanyak mungkin dari anggota kelompok. Hal-hal yang pelru diperhatikan meliputi :
§  Kebebasan dalam memberikan gagasan
§  Penekanan pada kuantitas
§  Kritik ditangguhkan
§  Kombinsi dan peningkatan gagasan
§  Mengulangi gagasan (Munandar, 2009 : 104).
3)      Daftar pertanyaan yang memacu gagasan
Teknik ini bertujuan melancarkan arus pencetusan gagasan dalam pemecahan masalah seperti mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki suatu subyek atau situasi dengan meninjau daftar pertanyaan yang membantu melihat hubungan-hubungan baru.
4)      Menyimak sifat benda atau keadaan
Teknik ini digunakan untuk mengubah gagasan guna meningkatkan atau memperbaiki suatu subyek atau situasi. Pertama-tama semua atribut (sifat) dari suatu subyek atau situasi dicatat, kemudian masing-masing ciri ditinjau satu persatu untuk mempertimbangkan kemungkinan mengubah atau memperbaiki obyek atau situasi tersebut.
5)      Hubungan yang dipaksakan
Teknik lain untuk merangsang gagasan-gagasan kreatif ialah dengan cara “memaksakan” suatu hubungan antara objek atau situasi yang dimasalahkan dengan unsur-unsur lain untuk menimbulkan gagasan-gagasan baru. Maksud dari “memaksakan hubungan” ialah agar kita dapat melepskan diri dari hubungan-hubungan yang lazim atau yang sudah mejadi tradisi (kebiasan) untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru.
6)      Pendekatan Morfologis
Pada teknik pendekatan atau analisis morfologis kita berusaha memecahkan suatu masalah atau memperoleh ide-ide baru dengan cara mengkaji dengan cermat bentuk struktur masalah pemecahan masalah secara kreatif.

c.       Mengapa Belajar Kreatif itu Penting ?
Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.
1.      Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebih mampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
2.      Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
3.      Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehidupan kita. Banyak pengalaman kreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
4.      Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
  
d.      Tiga Tingkat Belajar Kreatif (Model Triffinger)
Model Treffinger untuk Mendorong Belajar Kreatif (Treffinger, 1986) menggambarkan susunan tiga tingkat yang mulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke fungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. Seperti dalam Model Penggayaan Renzulli (Renzulli, 1977, dikutip oleh Parke), siswa terlibat dalam kegitan membangun keterampilan pada dua tingkat pertama untuk kemudian menangani masalah kehidupan nyata pada tingkat ketiga. Model Treffinger terdiri dari langkah-langkah berikut: Basic Tools, Practice with Process, dan Working with Real Problems.
§  Tingkat I : Basic Tools atau teknik-teknik kreativitas tingkat I
                  (Munandar, dalam Semiawan, Munandar dan
                  Munandar, 1987) meliputi keterampilan divergen
                  (Guilford, 1967, dikutip Parke, 1989) dan teknik-teknik
                  kreatif. Keterampilan dan teknik-teknik ini
                  mengembangkan kelancaran dan kelenturan berfikir
                  serta kesediaan mengungkapakan pemikiran kreatif
                  kepada orang lain.
§  Tingkat II : Practice with Process atau teknik-teknik krativitas
                    tingkat II (Munandar, dalam Semiawan, Munandar
                    dan Munandar, 1987) memberi kesempatan kepada
                    siswa untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari
                    ada tingkat I dalam situasi praktis. Untuk tujuan ini
                    digunakan strategi seperti bermain peran, simulasi,
                    dan studi kasus. Keahiran dalam berfikir kreatif
                    menuntuut siswa memiliki keterampilan untuk
                    melakukan fungsi-fungsi seperti analisis, evaluasi,
                    imajinasi, dan fantasi.
§  Tingkat III : Working with Real Problems atau teknik kreatif
                    tingkat III (Munandar, dalam Semiawan, Munandar
                    dan Munandar, 1987) menerapkan keterampilan yang
                    dipelajari dua tingkat pertama terhadap tantangan
                    dunia nyata. Seperti pada kegiatan Tipe III pada
                    Model Enrichment Triad dari Renzulli, siswa
                    menggunakan kemampuan mereka dengan cara yang
                    bermakna untuk kehidupannya. Siswa tidak hanya
                    belajar keterampilan berfikir kreatif, tetapi juga
                    bagaimana menggunakan informasi ini dalam
                    kehidupan mereka.

2.      MENGAJAR KREATIF
a.      Pengertian Mengajar Kreatif
Kata ‘mengajar’ mengarah kepada sosok pengajar, yaitu guru/dosen. Orang yang dipercaya untuk bisa ‘memberi pelajaran’ kepada muridnya, membagikan ilmu yang didapat kepada anak didiknya. Inilah tugas mulia dari para pengajar, yang harus diakui bahwa ini tidaklah mudah. Setiap dosen atau guru harus memiliki cara yang kreatif dalam mengajarkan suatu pelajaran agar mahasiswa atau anak didiknya dapat mengerti pelajaran tersebut dan dapat mengikutinya dengan santai tanpa tertekan.
b.      Teknik Mengajar Kreatif :
1)      Melakukan Pemanasan
Untuk menumbuhkan iklim atau suasana kreatif didalam kelas yang memungkinkan siswa untuk membuka dirinya, merasa bebas dan aman untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya, guru perlu melakukan “pemanasan” atau warming up, seperti dilakukan seseorang sebelum berenang, hanya saja disini pemanasannya adalah secara mental. Jika sebelumnya sisiwa di dalam kelas dituntut untuk mengerjakan berbagai tugas yang sangat bersetruktur, seperti mengulang apa yang diucapkan oleh guru, maka siswa memerlukan switch mental dari proses pemikiran reproduktif dan konvergen ke proses pemikiran divergen dan imajinatif.
Tugas atau kegiatan yang bertujuan meningkatkan pemikiran dan sikap kreatif menuntut cara dan sikap belajar yang berbeda, lebih bebas, terbuka, dan tertantang untuk berperan secara aktif dengan memberanikan diri dan senang memberikan gagasan sebanyak mungkin.
Pemanasan dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan terbuka yang menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa, seperti, “Apa  saja yang membuat kamu merasa senang?” “Apa saja yang kamu sukai disekolah?” “Dan apa yang tidak kamu sukai?” cara lain yang berhasil adalah dengan mendorong siswa mengajukan pertanyaan terhadap suatu masalah, seperti misalnya sering terjadi perkelahian antara siwa.
2)      Pemikiran dan Pemanasan
Teknik pemikiran dan perasaan terbuka ingin mengupayakan agar peserta didik terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertanyaan dan memungkinkan peserta didik mengungkapkan segala perasaan dan pikiran sebagai jawaban. Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan terbuka dapat dicontohkan sebagai berikut:
v  Andai kata
Pertanyaan ini dapat diungkapkan melalui pertanyaan tentang situasi yang tidak benar atau sesuatu yang bertentangan dengan fakta.
v  Peningkatan suatu roduk
Pertanyaan ini dapat diungkapkan melalui pengungkapan pemikiran pengembangan atau peningkatan terhadap suatu kondisi yang telah ada. Contoh: Bagaimana cara memperbaiki cara belajar yang biasa dilakukan sekarang.
v  Pemulaan yang tidak selesai
Pertanyaan ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu kondisi yang belum selesai atau belum sempurna, untuk dipikirkan kemungkinan penyelesaian atau penyempurnaannya.
v  Penggunaan baru dari objek-objek umum
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu benda atau hal untuk dipikirkan fungsi lainnya dilain fungsi yang lazim. Contoh: tali sepatu, kancing baju, kumis, dan lain sebagainya.
v  Alternatif  judul
Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu stimulasi untuk dipikirkan judulnya yang tepat. Contoh kepada peserta didik diperlihatkan naskah sebuah cerita, lukisan, atau gambar-gambar tentang sesuatu.
v  Membantu siswa atau anak mengajukan pertanyaan.
Kegiatan ini dilakukan mengingat pada biasanya siswa beranggapan bahwa gurulah yang banyak mengajukan pertanyaan dalam konteks pembelajaran. Disini siswa diberi kesempatan untuk memikirkan banyak pertanyaan. Melalui strategi pemikiran dan persaan terbuka ini diharapkan peserta didik akan terangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya dan menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran.

3.      MENJELASKAN STRATEGI BELAJAR KREATIF
Ada beberapa kajian ( Niu & Sternberg 2003; Torrance 1961) yang telah dilakukan untuk menjawab persoalan pertama yang penting itu. Niu & Sternberg (2003) telah menjalankan satu kajian untuk menganalisa dua cara yang digunakan untuk  meningkatkan kreativitas 96 orang pelajar di sebuah Sekolah Tinggi di Beijing, China. Para pelajar ini telah diminta untuk menghasilkan satu hasil seni yaitu kolaj. Dalam kajian ini para pelajar  telah dibahagikan kepada  3 kumpulan yaitu kumpulan pertama tidak menerima  arahan supaya menjadi kreativitas apabila menghasilkan kolaj, kumpulan kedua telah menerima arahan supaya menjadi kreatif apabila menghasilkan kolaj dan kumpulan ketiga pula telah diajar secara terperinci bagaimana menghasilkan kolaj yang kreatif. Kolaj  yang dihasilkan oleh para pelajar tersebut telah diadili secara subjektif dan objektif. Hasil kajian ini mendapati bahawa para pelajar yang telah diminta menjadi kreatif telah menghasilkan kolaj yang kreatif berbanding dengan rakan-rakan mereka yang tidak menerima sebarang arahan supaya menjadi kreatif. Kajian juga mendapati bahawa pelajar yang diajar secara terperinci bagaimana menghasilkan kolaj yang kreatif telah menghasilkan kolaj yang paling kreatif. Dapatan kajian ini menunjukkan kepada kita bahawa kreativiti pelajar boleh ditingkatkan  dalam bilik darjah melalui arahan-arahan yang disampaikan oleh guru kepada para pelajarnya.
Di samping itu, Torrance (1961) telah mengajar guru-guru di beberapa buah sekolah di Amerika Syarikat lima prinsip pengajaran kreatif yaitu:
1.      Menghormati persoalan-persoalan yang dikemukakan oleh pelajar,
2.       Menghormati idea-idea imaginatif yang dikeluarkan oleh pelajar,
3.      Tunjukkan kepada pelajar bahwa idea-idea yang mereka keluarkan mempunyai nilai tersendiri,
4.      Benarkan pelajar melakukan perkara-perkara tertentu untuk tujuan latihan semata-mata tanpa sebarang penilaian,
5.      Kaitkan sebarang penilaian yang guru lakukan dengan sebab dan akibat. Para guru tersebut telah menjalankan pengajaran dengan mengikut kelima-lima prinsip ini selama empat minggu. Satu lagi kumpulan guru yang dikawal telah menjalankan pengajaran mereka mengikut prosedur biasa untuk tempoh yang sama. Ujian kreativiti yang dilakukan terhadap pelajar sebelum dan sesudah kajian ini dilakukan menunjukkan bahawa terdapat peningkatan yang mendadak terhadap pelajar yang diajar oleh guru menggunakan lima prinsip pengajaran kreativiti berbanding dengan pelajar yang diajar oleh guru mengikut prosedur biasa. Mereka mendapat markah yang lebih tinggi untuk keaslian , keluwesan, kefleksibelan dan penghuraian (Stein, 1974).
Sebagai tambahan, Amabile (1983) mendakwa bahwa siapa yang memiliki kebolehan kognitif yang biasa boleh bercita-cita untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif dalam bidang tertentu. Cropley (1992) pula menambah bahwa semua pelajar tanpa mengira tahap kepintaran mereka memilikinkemampuan untuk berfikir secara konvergen dan divergen. Pemikiran divergen adalah pemikiran yang dikaitkan dengan kreativiti. Bagi menjawab soalan yang kedua yaitu bagaimanakah kreativiti boleh dipertingkatkan, beberapa percobaan telah dilakukan untuk membangunkan pelbagai pendekatan untuk meningkatkan kreativiti dalam bilik darjah. Secara keseluruhannya pendekatan itu boleh dibahagikan kepada tiga kategori yaitu:
a)      Strategi-strategi umum yang hanya melibatkan perubahan dalam stail pengajaran guru atau pedagogi
b)      Pendekatan berstruktur yang melibatkan penggunaan teknik-teknik khusus
c)      Pendekatan penyelesaian masalah terhadap isi mata pelajaran. Disebabkan kekangan masa dan tenaga, perbincangan ini akan memberikan tumpuan kepada strategi-strategi umum yang hanya melibatkan perubahan dalam stail pengajaran guru. 

4.      MENJELASKAN DAN MENGANALISA SARAN-SARAN DAN TAMBAHAN DALAM MEMUPUK IKLIM BELAJAR KREATIF
Ø  Menghargai kreativitas siswa.
Ø  Bersikap terbuka terhadap gagasan-gagasan baru.
Ø  Mengakui dan menghargai adanya perbedaan individu.
Ø  Bersikap menerima dan menunjang anak.
Ø  Menyediakan pengalaman mengajar yang berdiferensisasi.
Ø  Memberikan struktur dalam mengajar sehingga anak tidak merasa.
Ø  Ragu-ragu tetapi di lain pihak cukup luwes sehingga tidak menghamabat pemikiran, sikap dan perilaku kreatif anak.
Ø  Setiap anak ikut mengambil bagian dalam merencanakan pekerjaan sendiri dan pekerjaan kelompok.
Ø  Tidak bersikap sebagai tokoh yang “maha mengetahui” tetapi menyadari keterbatasannya sendiri.

Daftar Pustaka :
Utami, Munandar. (2009). Kreativitas dan keberbakatan. Jakarta: Rineka cipta
http://amaliakusuma61.blogspot.com/2015/05/pengembangan-kreativitas-dan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar